IDXChannel - Tiga indeks utama Wall Street bergerak beragam pada Senin (18/5/2026), meskipun aksi jual di pasar obligasi yang sempat menekan saham pekan lalu mulai mereda dan harga minyak turun.
Melansir Reuters, Dow Jones naik 139,25 poin atau 0,28 persen menjadi 49.665,42, S&P 500 naik 3,27 poin atau 0,04 persen menjadi 7.411,61, sementara Nasdaq turun 35,93 poin atau 0,14 persen ke 26.189,22.
Imbal hasil obligasi Treasury 10 tahun, yang menjadi acuan biaya pinjaman global, turun ke 4,573 persen, setelah sebelumnya sempat naik hingga 4,631 persen yang menjadi level tertinggi sejak Februari 2025.
Harga minyak juga melemah, dengan minyak Brent turun hampir 2 persen setelah muncul laporan bahwa AS mengusulkan keringanan sementara terhadap sanksi minyak Iran, yang meredakan kekhawatiran gangguan pasokan. Pejabat Iran belum memberikan komentar.
“Imbal hasil adalah kunci dari semua ini karena saham pertumbuhan, terutama perusahaan terkait AI, dihargai berdasarkan proyeksi laba ke depan. Ketika imbal hasil naik, valuasi saat ini akan turun. Itu isu utama bagi pasar,” kata manajer portofolio senior di Dakota Wealth, Robert Pavlik.
Aksi jual obligasi baru-baru ini dipicu oleh lonjakan harga minyak, yang meningkatkan kekhawatiran bahwa inflasi dapat membuat biaya pinjaman tetap tinggi, sementara upaya mengakhiri perang Iran tampak menemui hambatan.
Sektor jasa konsumen dan keuangan memimpin penguatan di S&P 500, sementara teknologi informasi dan energi termasuk yang terlemah.
Wall Street sebelumnya menguat tajam dalam beberapa pekan terakhir, dengan S&P 500 dan Nasdaq mencetak rekor tertinggi, didorong antusiasme terhadap kecerdasan buatan yang membuat investor mengabaikan ancaman inflasi akibat lonjakan harga minyak.
Nvidia dijadwalkan melaporkan kinerja pada Rabu. Ekspektasi pasar tinggi dan sahamnya telah naik 36 persen dari titik terendah Maret, sementara indeks semikonduktor Philadelphia telah melonjak lebih dari 60 persen tahun ini berkat permintaan kuat untuk chip terkait AI.
Walmart, peritel terbesar di dunia, juga diperkirakan merilis laporan keuangan minggu ini, yang bisa memberi gambaran lebih jelas tentang bagaimana konsumen AS menghadapi kenaikan harga energi dan tekanan inflasi secara umum.
(NIA DEVIYANA)