Alhasil, laba bersih turun tajam ditambah dengan hilangnya laba dari operasi yang dihentikan, PT Adaro Andalan Indonesia (AAI). Laba bersih pun terkoreksi hingga 68 persen menjadi Rp7,4 triliun. Tanpa memperhitungkan faktor tersebut, laba bersih Alamtri turun 27 persen dari USD570 juta.
Dari sisi neraca, posisi kas dan setara kas turun 26 persen menjadi USD1,4 miliar. Namun, posisi utang berbunga melesat 43 persen menjadi USD775 juta seiring kenaikan realisasi belanja modal menjadi USD797 juta (+43 persen).
Lonjakan belanja modal tersebut didorong oleh investasi di sektor aluminium lewat PT Kalimantan Alumunium Industry yang kini telah memulai pengujian dan commissioning sebagian pada smelter.
Di samping itu, Alamtri juga melakukan investasi infrastruktur mulai dari peningkatan jalan hauling tahap I, pembuatan konveyor pemuatan tongkang, dan mess karyawan PT Maruwai Coal. Perseroan juga tengah menyiapkan peningkatan jalan hauling tahap 2.
Secara operasional, Alamtri memproduksi 7,41 juta ton batu bara (+12 persen) dengan total penjualan 6,28 juta ton (+12 persen). Selaras dengan kenaikan produksi pada PT Maruwai Coal dan PT Lahai Coal, pengupasan lapisan penutup (overburden removal) naik 12 persen menjadi 26,33 juta bcm dengan nisbah kupas 3,55 kali.
(Rahmat Fiansyah)