Secara jangka menengah, ujar dia, produksi katoda tembaga diproyeksikan terus meningkat seiring kenaikan utilisasi smelter, sementara produksi emas murni juga diperkirakan tumbuh signifikan seiring optimalisasi PMR.
Di luar faktor internal perusahaan, BRI Danareksa menilai prospek pasar tembaga global masih sangat menarik dalam beberapa tahun ke depan.
Permintaan tembaga kini tidak lagi hanya bergantung pada sektor konstruksi, melainkan semakin didorong oleh tren elektrifikasi, pengembangan pusat data berbasis kecerdasan buatan (AI), kendaraan listrik, dan pembangunan jaringan energi terbarukan.
Pada saat yang sama, peningkatan pasokan global dinilai masih terbatas sehingga pasar tembaga diperkirakan tetap berada dalam kondisi defisit baik jangka pendek maupun jangka panjang.
Sementara itu, harga emas juga mendapat dukungan dari tingginya permintaan bank sentral dunia yang terus meningkatkan kepemilikan logam mulia sebagai bagian dari strategi diversifikasi cadangan devisa.
"Dengan kombinasi pemulihan operasional Batu Hijau, kontribusi hilirisasi yang semakin besar, proyek ekspansi yang hampir rampung, serta prospek positif komoditas utama yang diproduksi perusahaan, AMMN dinilai berada pada posisi yang kuat untuk memasuki fase pertumbuhan berikutnya," kata dia.
BRI Danareksa Sekuritas memulai initiation coverage terhadap AMMN dengan rekomendasi ‘Buy’ dan target harga Rp6.000 per saham.
(Dhera Arizona)