Jika harga minyak mendekati USD100 dan disertai gangguan distribusi fisik di Selat Hormuz, dia memproyeksi pasar bisa memasuki fase risk off yang lebih dalam. Secara teknikal, area 7.500–7.600 menjadi zona penopang psikologis penting.
"Jika ketegangan mereda dan rupiah stabil, IHSG berpeluang rebound bertahap ke kisaran 7.900–8.100 pada akhir Maret. Sebaliknya, jika eskalasi konflik meluas dan tekanan fiskal meningkat, indeks masih berisiko menguji kembali area 7.400," tutur Hendra.
Adapun IHSG terus merosot ke level 7.577 atau terkoreksi 4,57 persen pada penutupan perdagangan Rabu (4/3/2026).
Menukil data RTI Business pada pukul 16.03, IHSG sempat menjangkau level tertinggi 7.897 dan level terendah pada 7.486. Adapun IHSG mencatat nilai transaksi sebesar Rp29,72 triliun dengan volume transaksi sebanyak 53,61 miliar saham.
Sebanyak 734 saham bergerak di zona merah, 54 saham berada di zona hijau, dan 33 saham lainnya stagnan. Kapitalisasi pasar IHSG susut ke level Rp13.549,4 triliun.
Hampir keseluruhan saham mencatatkan nilai pelemahan. Mulai dari sektor bahan baku, properti, konstruksi hingga perbankan.
Di sektor market resources, emiten INCO membukukan koreksi dalam sampai 10,07 persen. Pada sektor properti, pelemahan terbesar dialami emiten SSIA (7,97 persen), sektor konstruksi ada SMGR (8,09 persen).
(Febrina Ratna Iskana)