JPMorgan memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia ditopang oleh meningkatnya belanja pemerintah, baik melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) maupun peran Danantara.
Dorongan tersebut dinilai mampu mengerek konsumsi domestik, terutama di tengah perbaikan kondisi makro global dan pelonggaran tensi geopolitik.
Dari sisi kebijakan moneter, tren pelonggaran diperkirakan berlanjut. JPMorgan memproyeksikan Bank Indonesia (BI) masih akan memangkas suku bunga acuan sebesar 50 basis poin pada 2026, didukung oleh likuiditas sistem keuangan yang membaik.
Di sisi eksternal, defisit transaksi berjalan (current account/CA) diperkirakan tetap terjaga di level yang sehat, yakni di bawah 1 persen terhadap PDB.
Meski demikian, JPMorgan mengingatkan adanya risiko utama yang patut diwaspadai, yakni volatilitas nilai tukar rupiah.