Di saat bersamaan, komunitas investor global maupun domestik kian selektif menaruh modal pada portofolio efek yang memiliki komitmen lingkungan nyata dan risiko terukur.
Menurut Iding, bursa memegang mandat penting untuk menyalurkan likuiditas pemodal ke korporasi yang aktif menjalankan transformasi bisnis ramah lingkungan.
"Di sisi lain, investor tentu membutuhkan investasi yang kredibel, pilihan instrumen yang beragam dan acuan yang berguna, nah di sinilah pasar modal Indonesia berperan mempertemukan perusahaan yang membutuhkan pembiayaan berbasis ESG dan investor untuk mendukung pertumbuhan yang berkelanjutan," kata Iding.
Kematangan ekosistem keberlanjutan di pasar modal juga tecermin dari kepatuhan emiten dalam menyampaikan keterbukaan informasi. BEI mencatat sebanyak 85 persen perusahaan tercatat telah menyampaikan laporan keberlanjutan (sustainability report), serta lebih dari 51 perusahaan di jajaran Indeks IDX-30 telah mendeklarasikan komitmen integrasi ESG.
Kendati demikian, Iding mengingatkan bahwa tantangan berikutnya adalah memastikan informasi keberlanjutan tersebut memiliki kualitas tinggi, dapat diperbandingkan, dan diterjemahkan dalam kemajuan bisnis yang dapat diukur.