"Belakangan pasar modal kita mengadapai tantangan, kalau kita mundur ada Covid-19, kemudian tahun 2008 ada krisis global, dan seterusnya. Tantangan saat ini cukup unik, karena trust (kredibilitas) dipertanyakan," katanya.
Oleh karena itu, Jeffrey mengatakan pihaknya bersama SRO dan OJK pada akhir Maret lalu sudah menyampaikan seluruh proposal terkait agenda transformasi integritas pasar modal, untuk menjawab isu transparansi dan tata kelola yang sebelumnya dipertanyakan investor. Adapun proposal yang disampaikan kepada MSCI antara lain ialah keterbukaan pemegang saham diatas 1 persen, dari sebelumnya 5 persen.
"Akhir maret kemarin kita sudah men-deliver (menyampaikan) seluruh proposal untuk menjawab concern (kekhawatiran) transparansi dan tata kelola dari pasar modal kita," kata Jeffrey.
Selain itu, lanjut dia, BEI juga telah meningkatkan kualitas keterbukaan data investor dengan menyampaikan informasi pemegang saham secara lebih granular. Jika sebelumnya klasifikasi investor hanya terdiri dari 9 tipe, kini telah diperluas menjadi 39 tipe dan subtipe investor.
BEI juga telah mengeluarkan daftar saham yang pemegangnya terkonsentrasi atau High Shareholding Concentration (HSC). Selain itu, BEI juga mulai memberlakukan Peraturan Nomor I-A yang baru. Dalam aturan tersebut, ketentuan free float minimum dinaikkan menjadi 15 persen.