Sebagian besar pendapatan BNI cabang London, sekitar 75% berasal dari kredit. Sedangkan pendapatan perseroan juga didapat dari perdagangan surat berharga dan currency swap. Diungkapkan Putrama, transaksi pasar sekunder untuk pasar surat utang negara berdenominasi dolar dari pemerintah Indonesia cukup potensial.
“Jadi sekitar 75% surat utang pemerintah berdenominasi Dolar diperdagangkan di luar negeri dan 65% diperdagangkan di UK dan Eropa. Kami ingin menjadi market maker dan bersaing dengan bank asing," jelasnya.
Sementara itu, General Manager BNI cabang London Ujuan Marihot HP mengatakan, tahun ini cabang BNI di London tersebut telah mengumpulkan pendapatan sekitar USD400 juta atau sekitar Rp5,6 triliun. Pendanaan berbunga rendah tersebut, jelas dia, antara lain berasal dari bank lokal serta deposan non-bank yang berupa institusi finansial.
“Dana tersebut rencananya juga akan disalurkan untuk kredit di Indonesia. Kami juga membiayai eksportir di Indonesia. Kami membiayai eksportir kayu dan ada juga tekstil, salah satunya grup Sritex,” kata Ujuan. Lebih lanjut, ditambahkannya, bisnis yang akan dikembangkan BNI London ke depan adalah di bidang treasury. (*)