AALI
8225
ABBA
550
ABDA
0
ABMM
1295
ACES
1300
ACST
244
ACST-R
0
ADES
2820
ADHI
895
ADMF
7675
ADMG
216
ADRO
1345
AGAR
368
AGII
1305
AGRO
2290
AGRO-R
0
AGRS
244
AHAP
70
AIMS
338
AIMS-W
0
AISA
206
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
600
AKRA
3870
AKSI
424
ALDO
720
ALKA
234
ALMI
238
ALTO
322
Market Watch
Last updated : 2021/09/21 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
453.05
-0.47%
-2.15
IHSG
6060.76
-0.26%
-15.56
LQ45
851.73
-0.36%
-3.10
HSI
24221.54
0.51%
+122.40
N225
29839.71
-2.17%
-660.34
NYSE
16168.17
-1.78%
-292.18
Kurs
HKD/IDR 1,827
USD/IDR 14,235
Emas
805,555 / gram

BRI Gelar Rights Issue Super Jumbo, Ini Manfaatnya untuk Negara

MARKET NEWS
Suparjo Ramalan
Kamis, 17 Juni 2021 13:05 WIB
Rencana penambahan modal dengan memberikan rights issue super jumbo PT Bank Rakyat Indonesia menjadi sentimen positif bagi investor pasar modal. 
BRI Gelar Rights Issue Super Jumbo, Ini Manfaatnya untuk Negara. (Foto: MNC Media)
<p>IDXChannel - Rencana penambahan modal dengan memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) atau rights issue super jumbo PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, dinilai menjadi sentimen positif bagi investor pasar modal. 

Bahkan, langkah rights issue guna pembentukan Holding Ultra Mikro dipandang perlu menjadi contoh bank-bank lain milik pemerintah atau Himbara. 

Pengamat Pasar Modal sekaligus Founder Indonesia Superstocks Community, Edhi Pranasidhi, menyebut, integrasi bisnis yang didukung dengan kinerja dapat menjadi sentimen yang sangat baik bagi investor pasar modal untuk ikut berkontribusi dalam membangun negeri. 

Menurutnya, harga rata-rata 90 hari saham emiten berkode BBRI saat ini berada pada 4.360 per unit. Dengan demikian, harga perkiraan pelaksanaan rights issue seharusnya antara Rp3.900 dan Rp3.500 per unit.

Sebagai aksi rights issue super jumbo, Edhi memproyeksikan dana segar yang bisa diperoleh berada di kisaran Rp100,3 triliun hingga Rp118 triliun.

"Rencana mega rights issue BBRI akan menjadi sejarah sebagai rights issue terbesar yang menghasilkan dana terbesar pula di Indonesia. Ini bisa menjadi contoh bagi bank BUMN lain untuk melakukan integrasi sekaligus menyuntikkan modal baru untuk keperluan ekspansi lebih kuat," katanya, Kamis (17/6/2021). 

Dia mencatat, upaya menerbitkan saham baru BRI akan memuluskan rencana pemerintah untuk membentuk holding di ekosistem ultra mikro sekaligus pemulihan kinerja segmen usaha tersebut.

Seperti diketahui BBRI berencana menerbitkan sebanyak-banyaknya 28.677.086.000 saham Seri B atau mewakili sebanyak-banyaknya 23,25 persen dari modal ditempatkan dan disetor penuh perseroan.

Edhi mengatakan harga saham BBRI berpotensi menembus Rp5.000 setelah aksi korporasi. Dari perhitungannya, harga buku BBRI saat ini berada di Rp1.900 per unit, yang artinya harga di pasar saat ini berada di kisaran 1,9 kali harga buku. Jauh dari posisi rata-rata bank besar yang berada di kisaran 2,8 kali.

Setelah right issue harga buku akan turun ke posisi Rp1,637 per unit. Dengan harga saham BBRI di pasar hari-hari terakhir, maka price to book ratio masih berada di kisaran 2,46 kali. Untuk mencapai harga rata-rata, harusnya harga pasca aksi korporasi dapat naik ke Rp4.580 per unit.

"Jika menggunakan metode Earning Per Share (EPS) harga bisa berbeda lagi. Dan harga pasca aksi korporasi bisa mencapai 5.35. Dengan catatan tidak ada sentimen negatif seperti layoff besar-besaran," tutur dia. 

Baik PNM maupun Pegadaian, menurut Edhi, nantinya akan menjadi feeder bagi BRI untuk menyalurkan pinjaman kepada penggiat skala usaha sangat kecil yang saat ini belum difasilitasi perbankan melalui kredit usaha rakyat (KUR). 

Integrasi data antara PNM, Pegadaian dan BRI akan menjadi kunci penting bagi masa depan kelangsungan Holding Ultra Mikro nanti. Ekspansi kinerja PNM akan lebih baik dengan bantuan likuiditas dan jaringan BRI. Pegadaian pun tetap akan kuat melakukan ekspansi karena model bisnisnya yang berbeda dari BRI dan Pegadaian. 

"Saya melihat pembentukan holding ini sangat positif. Potensinya sangat baik, baik bagi PNM, Pegadaian dan BRI. Ini adalah win-win solution," ujar dia. 

BRI juga dinilai termasuk perusahaan yang cukup mumpuni dalam melakukan integrasi. Bahkan Holding Ultra Mikro tidak akan menjadi praktek kanibalisme antara unit usaha BBRI lain seperti Bank BRI Agroniaga (AGRO) karena ceruk pasar yang berbeda. 

"Bahkan, AGRO mampu bertransformasi ke bisnis digital dan mampu berkolaborasi dengan banyak pihak lain dalam meningkatkan bisnis agri," ungkapnya. (TYO)

Rekomendasi Berita
Berita Terkait
link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD