Sepanjang Oktober-Desember 2025, Bukalapak mempercepat penyerapan dana IPO hingga Rp3,19 triliun seiring keputusan perseroan mengubah rencana penggunaan dana IPO. Pada 30 September 2025, sisa dana IPO Bukapalak mencapai Rp7,47 triliun, sedangkan saat ini tersisa Rp4,3 triliun.
Sisa dana IPO terebut disimpan di deposito hingga SBN dengan tingkat bunga atau bagi hasil yang bervariasi antara 2,25-6,75 persen di luar giro yang memiliki bunga 0 persen.
Bukalapak misalnya, membuka deposito senilai Rp1,17 triliun di Bank BRI dengan bunga 5,25 persen. Kemudian ada juga giro dengan bunga 5 persen di Bank CIMB Niaga senilai Rp453,8 miliar. Adapun SBN rupiah, Bukalapak memiliki portofolio sebesar Rp900 miliar dengan bunga 2 persen.
Terkait masih adanya sisa dana IPO, Fika menegaskan, perseroan menerapkan prinsip kehati-hatian dan selektif, sebagai bagian dari kebijakan pengelolaan modal dan likuiditas. Pendekatan ini mempertimbangkan kondisi usaha, prioritas pengembangan, serta dinamika ekonomi dan industri, dengan tujuan menjaga kualitas penggunaan dana dan keberlanjutan usaha perseroan.
Selain itu, kata dia, perseroan juga secara aktif terus menjajaki berbagai peluang pertumbuhan usaha dan potensi kerja sama. Namun hingga akhir periode pelaporan, peluang-peluang tersebut belum sepenuhnya memenuhi kriteria strategis, finansial, dan profil risiko yang ditetapkan, sehingga realisasi Dana IPO ditunda sampai dengan terdapat peluang yang memenuhi kriteria tersebut.
(Rahmat Fiansyah)