sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

BUMI, PTRO, hingga RAJA ARB usai Keputusan MSCI, Bagaimana Nasib Saham Konglo?

Market news editor TIM RISET IDX CHANNEL
28/01/2026 13:27 WIB
Keputusan MSCI membekukan sementara sejumlah perubahan dalam indeks saham Indonesia langsung menekan saham-saham konglomerat.
BUMI, PTRO, hingga RAJA ARB usai Keputusan MSCI, Bagaimana Nasib Saham Konglo? (Foto: Freepik)
BUMI, PTRO, hingga RAJA ARB usai Keputusan MSCI, Bagaimana Nasib Saham Konglo? (Foto: Freepik)

IDXChannel – Keputusan MSCI membekukan sementara sejumlah perubahan dalam indeks saham Indonesia langsung menekan saham-saham konglomerat yang selama ini mengandalkan narasi index play.

Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun tajam 7,34 persen ke level 8.321,22. Nilai transaksi tercatat jumbo, yakni sebesar Rp30,00 triliun, dengan volume perdagangan 40,69 miliar saham.

Sebanyak 800 saham turun, hanya 32 saham yang naik, dan 126 sisanya stagnan.

Saham-saham konglomerat, dari mulai Grup Bakrie, Barito, hingga Salim, dan bank besar kompak menjadi pemberat indeks acuan.

Sejumlah emiten konglomerasi seperti PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) langsung ambruk hingga 15 persen atau menyentuh batas auto rejection bawah (ARB).

Saham lain seperti PANI, BRPT, BRMS, CDIA, BUMI, hingga BREN juga tercatat jatuh belasan persen hingga ARB dalam satu hari perdagangan.

Tekanan tidak berhenti di saham konglomerat. Saham-saham bank besar turut terseret arus jual.

Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) sama-sama terkoreksi signifikan sekitar 2-4 persen, mencerminkan pelepasan posisi oleh investor institusi di tengah meningkatnya ketidakpastian terkait indeks global.

Saham berkapitalisasi jumbo lain seperti PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) dan PT Amman Mineral Internasional TBk (AMMN) juga mencatatkan penurunan dua digit, menegaskan luasnya tekanan pasar hari ini.

Pelaku pasar menilai keputusan MSCI tersebut memicu aksi risk-off, seiring kekhawatiran terhadap potensi tertahannya arus dana pasif global yang sebelumnya diharapkan masuk ke pasar saham domestik.

Pengamat pasar modal Michael Yeoh menyarankan investor untuk bersikap wait and see hingga informasi dari KSEI benar-benar jelas.

Ia menilai ketidakpastian muncul karena dalam metodologi MSCI, perhitungan kapitalisasi pasar sangat bergantung pada free float.

“Karena dalam threshold MSCI, perhitungan market cap didasari dari free float,” kata Michael, Rabu (28/1/2026).

Menurutnya, selama status free float suatu saham masih berada dalam pengawasan, investor akan kesulitan membuat perhitungan yang akurat.

“Jika posisi free float masih dalam pengawasan, bagaimana investor bisa mengkalkulasi market cap?” tutur Michael.

Michael menilai langkah terbaru MSCI membawa implikasi serius bagi pasar modal Indonesia.

“Terbaru, MSCI akan membekukan sementara posisi Indonesia, sehingga tidak akan ada konstituen yang masuk maupun keluar. MSCI akan merevisi kembali hingga Mei, di mana ada potensi Indonesia akan dikeluarkan dari klasifikasi emerging market,” ujar Michael, Rabu (28/1).

MSCI Dinilai Berpotensi Picu Arus Keluar Dana Asing

Menurut Michael, dampak dari skenario terburuk tersebut tidak bisa dianggap sepele.

“Jika ini terjadi, maka akan terjadi outflow sebesar kurang lebih Rp150 triliun,” katanya.

Michael menekankan, untuk menghindari risiko tersebut dibutuhkan langkah bersama dari seluruh otoritas pasar modal.

“Perlu adanya kerja kolektif antara KSEI, BEI, dan OJK untuk memperbaiki struktur kepemilikan company dalam disclosure-nya,” tutur dia

Senada, CGS International juga menilai Indonesia berisiko menghadapi arus keluar dana asing jika MSCI menerapkan skenario terburuk dalam penilaian free float saham domestik.

Dalam skenario tersebut, Indonesia tetap berada di indeks Emerging Market, namun dengan penurunan bobot akibat penerapan discount multiplier pada seluruh saham.

CGS memperkirakan, jika diskon sekitar 20 persen diterapkan, dana pasif yang keluar dari pasar saham Indonesia bisa mencapai sekitar USD2 miliar (sekitar Rp33,40 triliun).

Risiko lain yang lebih ekstrem adalah potensi reklasifikasi Indonesia dari Emerging Market menjadi Frontier Market, yang berpeluang memicu arus keluar dana pasif hingga mendekati USD10 miliar (Rp167 triliun).

Tekanan tersebut dinilai signifikan karena nilainya lebih besar dibandingkan total arus keluar pasar saham dan obligasi sepanjang 2025, serta berpotensi berdampak pada nilai tukar rupiah.

Karena itu, CGS memperkirakan akan ada langkah lanjutan dari regulator, termasuk dialog tingkat tinggi dengan MSCI dan kemungkinan melibatkan penyedia indeks global lainnya.

Sambil menunggu kejelasan kebijakan dan inisiatif regulator, dengan pengumuman penting MSCI berikutnya diperkirakan baru muncul mendekati Mei 2026, pasar berpotensi mengalami overhang.

Dalam kondisi ini, CGS menyarankan investor selektif memilih saham dengan kepemilikan asing rendah, eksposur dolar AS terbatas, serta karakter defensif (valuasi murah dengan dividend yield tinggi).

Sektor yang dinilai relatif lebih tahan terhadap tekanan tersebut antara lain rokok, unggas, transportasi, jalan tol, utilitas, serta beberapa saham logam tertentu. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

Halaman : 1 2 3 4 5 6
Advertisement
Advertisement