Lonjakan harga minyak menjadi pemicu utama tekanan pasar setelah Brent naik sekitar 3 persen ke USD115,98 per barel dan minyak AS mencapai USD102,52 per barel.
Kepala Ekonom Global JPMorgan Bruce Kasman memperingatkan bahwa penutupan Selat Hormuz yang berkepanjangan dapat mendorong lonjakan harga energi lebih tinggi.
"Jika Selat tetap tertutup selama satu bulan tambahan, harga minyak berpotensi naik menuju USD150 per barel dan membatasi pasokan energi bagi sektor industri," ujar dia.
Kondisi ini memperkuat kekhawatiran pasar bahwa konflik Timur Tengah tidak hanya memicu lonjakan harga minyak, tetapi juga meningkatkan risiko stagflasi global dan tekanan pada pasar saham Asia. (Aldo Fernando)