Tak lama berselang, Trump mengumumkan tarif baru sebesar 10 persen untuk seluruh negara, sebelum kembali menaikkannya menjadi 15 persen, yang disebut-sebut bahkan mengejutkan sebagian pejabat di lingkarannya sendiri.
“Lanskap tarif kini lebih tidak pasti dibanding sebelumnya. Ketidakpastian bukan kabar baik bagi perekonomian maupun pasar mana pun,” ujar Senior FX Strategist di NAB, Rodrigo Catril, dikutip dari Reuters.
Catril menambahkan, “Kecuali akal sehat berlaku, kita bisa memasuki proses berulang di mana tarif baru diumumkan, lalu berpotensi dibatalkan, hanya untuk kemudian tarif baru kembali diumumkan, dan siklus itu terulang lagi.”
Belum jelas kapan tarif tersebut akan diberlakukan, komoditas atau negara mana yang akan dikecualikan, serta apakah seluruh negara benar-benar akan dikenakan tarif 15 persen.
Sejumlah negara seperti Inggris dan Australia sebelumnya dikenakan tarif 10 persen, sementara banyak negara di Asia menghadapi tarif yang lebih tinggi.