Pelaku pasar kini menyoroti nasib Selat Hormuz sebagai jalur utama pengiriman energi global.
Jalur yang menyalurkan sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia itu menjadi titik krusial karena Iran menjadikannya sebagai alat tekanan di tengah konflik, sementara serangan terhadap negara-negara Teluk yang menjadi basis militer AS terus berlanjut.
Mengutip Reuters, lonjakan harga energi sepanjang Maret sebelumnya telah memicu kekhawatiran inflasi global sekaligus memperburuk prospek pertumbuhan ekonomi. Kondisi ini membuat investor cenderung menghindari aset berisiko dan beralih ke aset lindung nilai.
Dolar AS kembali menguat terhadap mayoritas mata uang setelah pidato Trump, mencerminkan meningkatnya permintaan terhadap aset aman di tengah ketidakpastian geopolitik dan kekhawatiran berkepanjangan terhadap stabilitas pasokan energi global. (Aldo Fernando)