Perang yang telah berlangsung hampir satu bulan akibat serangan gabungan AS dan Israel ke Iran pada akhir Februari secara efektif menutup Selat Hormuz, jalur vital yang menyalurkan seperlima pasokan minyak dan gas alam cair global.
Gangguan tersebut mendorong harga minyak melampaui USD100 per barel. Kontrak berjangka Brent berada di level USD103,35 per barel, naik 1 persen secara harian dan diperkirakan melonjak 42 persen sepanjang bulan ini.
Manajer Portofolio Senior sekaligus Kepala Tim Multi Asset Allspring Global Investments Matthias Scheiber menilai kepentingan masing-masing pihak akan sulit dipertemukan.
“Jika melihat apa yang ingin dicapai AS, Israel, dan Teheran, akan sangat sulit menyatukan semua kepentingan tersebut,” kata Scheiber.
“Kami masih melihat adanya peluang harga energi tetap tinggi secara struktural untuk sementara waktu,” imbuh dia.