“Bertahannya harga minyak di sekitar USD90 per barel meski muncul kabar terbaru dari Iran menunjukkan pasar belum memperhitungkan gangguan pasokan yang berkelanjutan. Namun risiko repricing yang lebih besar masih terbuka jika infrastruktur energi, jalur pelayaran, atau keterlibatan AS meningkat,” ujarnya.
Di Wall Street, indeks saham AS ditutup melemah pada perdagangan sebelumnya setelah reli saham teknologi kehilangan tenaga.
Kekhawatiran terhadap valuasi saham AI, konflik Timur Tengah, dan meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga mendorong investor mengurangi aset berisiko.
Pelaku pasar kini menantikan rilis data inflasi Amerika Serikat yang dijadwalkan terbit malam ini. Survei Reuters memperkirakan inflasi tahunan AS naik menjadi 4,2 persen pada Mei, yang akan menjadi laju tertinggi sejak April 2023.
Data ketenagakerjaan AS yang lebih kuat dari perkiraan pekan lalu juga mengubah ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan moneter.