IDXChannel – Sebagian besar indeks saham Asia menguat pada Jumat (21/8/2026), tetapi berpotensi membukukan penurunan kinerja mingguan seiring tekanan di pasar obligasi global yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
Kebuntuan diplomatik di kawasan Teluk juga mendorong harga minyak ke level tertinggi dalam sebulan dan kembali meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi.
Imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) kembali naik setelah intervensi mengejutkan Departemen Keuangan AS pada Rabu (19/8) hanya mampu memberikan jeda kurang dari sehari dari aksi jual.
Kenaikan imbal hasil tersebut terjadi meski Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan pemerintah dapat kembali meningkatkan pembelian ulang obligasi Treasury. Dia juga mengemukakan kemungkinan konsolidasi fiskal.
Namun, para analis skeptis Bessent dapat menemukan penghematan belanja yang cukup untuk memangkas defisit anggaran secara signifikan.
Defisit AS saat ini mencapai lebih dari 6 persen terhadap produk domestik bruto (PDB), sementara beban bunga saja diperkirakan mencapai USD1,2 triliun tahun ini.
"Secara historis, pasar akan melawan ketika melihat fundamental seperti tingkat utang yang mencapai rekor dan defisit yang sangat besar berpihak pada mereka. Intervensi lebih lanjut juga berpotensi menjadi terlalu mahal untuk ditanggung," ujar strategist Deutsche Bank, Steven Zeng, dikutip Reuters.
Menurut dia, pendekatan pemerintah yang semakin aktif juga berpotensi menggerus kredibilitas institusional Departemen Keuangan AS serta mengurangi kepercayaan dan manfaat yang selama ini dibangun melalui kerangka kebijakan yang teratur dan dapat diprediksi.
Investor menunjukkan keraguan tersebut dengan mendorong imbal hasil obligasi Treasury tenor 30 tahun kembali ke 5,25 persen, sementara tenor 10 tahun mencapai 4,71 persen.
Pasar kini memperkirakan level 5,30 persen menjadi ambang batas yang sensitif bagi Departemen Keuangan AS, seperti level 160 yen per USD yang menjadi batas sensitif bagi pembuat kebijakan Jepang.
Imbal hasil yang lebih tinggi meningkatkan biaya utang secara global, terutama ketika perusahaan teknologi raksasa tengah gencar berutang untuk membiayai belanja modal kecerdasan buatan (AI).
Kondisi ini juga meningkatkan tingkat diskonto terhadap laba perusahaan dan memberikan tekanan terhadap valuasi saham.
Tekanan tersebut terlihat pada indeks Nikkei Jepang yang turun 0,65 persen, sehingga mencatat penurunan sekitar 4 persen sepanjang pekan ini.
Indeks saham Korea Selatan dan Taiwan masing-masing bergerak tipis menguat, tetapi keduanya masih berada di zona merah secara mingguan. Sementara itu, indeks MSCI Asia-Pasifik di luar Jepang naik 0,5 persen.
Di Eropa, kontrak berjangka (futures) EURO STOXX 50 dan DAX bergerak sedikit melemah, sedangkan FTSE futures turun 0,1 persen.
Di Wall Street, musim laporan keuangan yang kuat memberikan sedikit dukungan. Kontrak berjangka S&P 500 naik 0,1 persen, sementara Nasdaq futures menguat 0,2 persen.
Perhatian investor kini tertuju pada Nvidia yang akan merilis laporan keuangan pekan depan.
Kinerja dan prospek perusahaan tersebut menjadi sangat penting bagi kelanjutan reli saham berbasis AI, terutama terkait permintaan infrastruktur dan pendapatan pusat data. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.