IDXChannel - Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau Wall Street dibuka melemah pada perdagangan Jumat (20/2/2026) waktu setempat menyusul rilis data inflasi dan pertumbuhan ekonomi yang mengecewakan.
Melansir Investing, indeks acuan S&P 500 turun 0,3 persen ke 6.841,38. Indeks teknologi NASDAQ Composite terkoreksi 0,2 persen ke 22.628,98, sementara Dow Jones Industrial Average melemah 0,3 persen ke 49.229,79.
Pelemahan ini melanjutkan tekanan pada sesi sebelumnya, ketika Wall Street dibebani kekhawatiran atas tensi geopolitik di Timur Tengah, risalah hawkish Federal Reserve, serta sejumlah laporan kinerja emiten yang kurang memuaskan.
Fokus utama pasar tertuju pada data indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) Desember dan estimasi awal produk domestik bruto (PDB) kuartal IV-2025.
Data menunjukkan indeks inti PCE yang menjadi acuan inflasi pilihan The Fed naik 0,4 persen secara bulanan (month-to-month) dan 3 persen secara tahunan (year-on-year) pada Desember 2025.
Angka tahunan tersebut merupakan yang tertinggi sejak November 2023 dan masih jauh di atas target inflasi bank sentral sebesar 2 persen.
Kepala Investasi RGA Investments, Rick Gardner menilai, data PCE yang lebih tinggi dari ekspektasi menegaskan bahwa persoalan inflasi belum sepenuhnya teratasi, meski bank sentral saat ini masih menahan suku bunga di tengah transisi kepemimpinan The Fed.
Di sisi lain, estimasi awal pertumbuhan ekonomi AS pada kuartal IV tercatat hanya 1,4 persen, jauh di bawah konsensus pasar sebesar 2,8 persen. Meski lebih rendah dari perkiraan, angka tersebut tetap menunjukkan ekonomi masih mencatat ekspansi pada akhir 2025.
Selain data makro, perhatian investor juga tertuju pada dinamika pasar kredit swasta setelah Blue Owl Capital mengumumkan rencana penjualan aset senilai USD1,4 miliar serta pembekuan penarikan dana (redemption) pada salah satu produknya untuk menekan utang dan mengembalikan dana kepada investor.
Langkah tersebut memicu kekhawatiran terkait kualitas kredit yang lebih luas. Kekhawatiran lain muncul dari eksposur lembaga keuangan terhadap saham-saham perangkat lunak, yang belakangan tertekan akibat potensi disrupsi dari kemunculan model kecerdasan buatan (AI) baru.
Di ranah kebijakan, pelaku pasar juga mencermati potensi putusan Supreme Court of the United States terkait legalitas tarif yang diberlakukan Presiden Donald Trump berdasarkan International Emergency Economic Powers Act. Putusan tersebut dinilai dapat berdampak pada prospek perdagangan dan stabilitas ekonomi ke depan.
(DESI ANGRIANI)