Penurunan harga minyak berpotensi memperbaiki neraca perdagangan Indonesia, mengurangi beban subsidi energi, sekaligus membantu menjaga stabilitas rupiah.
Dalam riset tersebut, setiap perubahan USD1 pada harga minyak mentah Indonesia (ICP) diperkirakan berdampak sekitar Rp6,8 triliun terhadap defisit APBN.
Sebaliknya, kebijakan tarif perdagangan AS masih menjadi risiko yang perlu diwaspadai.
Pengawasan yang lebih ketat terhadap penggunaan tarif darurat dapat membatasi ruang pemerintah AS dalam menerapkan kebijakan tersebut, tetapi instrumen tarif sektoral tetap tersedia.
Dengan demikian, peluang keringanan tarif bagi eksportir belum dapat dipastikan. Terlebih, nilai ekspor nonmigas Indonesia ke AS mencapai USD25,4 miliar sepanjang Januari-September 2026.