Rupiah Masih Tertekan di Tengah Perbaikan Sentimen Global
Di tengah pelemahan dolar AS dan penurunan harga minyak, rupiah justru bergerak berlawanan arah.
Mata uang Garuda ditutup di level Rp18.168 per dolar AS pada 4 November 2026, sementara imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun meningkat ke 7,73 persen.
Sejak pengumuman MSCI pada 14 Oktober 2026, indeks dolar AS (DXY) tercatat melemah 1,1 persen.
Namun, rupiah justru terdepresiasi 1,5 persen dan menjadi mata uang dengan kinerja terlemah di Asia.
Tekanan serupa terlihat di pasar saham. Dalam kondisi normal, meningkatnya minat investor terhadap aset berisiko (risk-on) di pasar global biasanya turut mengangkat pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.