Digempur Produk Impor, Industri Semen Bakal Senasib Dengan Baja?
Market News
Fahmi Abidin
Kamis, 18 Juli 2019 15:00 WIB
Tak hanya besi dan baja impor, semen asal China juga membuat semen domestik menjadi kelebihan pasokan akibat tidak terserap pasar.
Digempur Produk Impor, Industri Semen Bakal Senasib Dengan Baja?. (Foto: Ist)

IDXChannel - Industri nasional kian pontang-panting menghadapi gempuran produk impor yang begitu masif. Tak hanya besi dan baja impor, semen asal China juga membuat semen domestik menjadi kelebihan pasokan akibat tidak terserap pasar.

Presiden Joko Widodo diminta untuk berkoordinasi dengan menterinya untuk melindungi industri semen dalam negeri. Semen impor dianggap melakukan langkah-langkah predatory pricing dengan mematok harga jual di bawah pasaran semen Indonesia.

"Pasar semen lokal dalam kondisi sangat memprihatinkan atau terancam bangkrut. Investor semen China yakni semen Conch dengan sengaja menjual semen di Indonesia dengan harga merugi, sehingga semen kita yang dimotori Semen Indonesia Grup BUMN kita hancur berantakan," terang Anggota DPR RI Andre Rosiade (18/7).

Menurutnya, Asosiasi Semen Indonesia sudah berkirim surat kepada Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto agar menghentikan dan melakukan moratorium pembangunan perusahaan semen baru dari investor luar. Andre juga menyarankan Menteri Perdagangan untuk menghentikan segala bentuk impor klinker sebagai bahan utama pembuatan semen.

Andre juga meminta Presiden Jokowi memanggil Menteri BUMN Rini Soemarno karena dianggap tidak ada pembelaan terhadap semen Indonesia yang notabene merupakan BUMN atau kepunyaan bangsa ini. Ia pun lantas menjabarkan kondisi riil pasar semen nasional.

"Pabrik semen di Aceh, Semen Padang, Semen Baturaja, Semen Gresik, dan Semen Tonasa terpaksa menurunkan kapasitas produksinya, karena semen mereka tidak laku dan kalah bersaing. Akibat kebijakan semen Conch yang terindikasi menggunakan predatory pricing. Di situs jual beli online, harga semen lokal itu berkisar di Rp51 ribu per sak. Sedangkan semen asal China berkisar Rp34 ribu per sak," pungkas Andre. (*)

Baca Juga