Indikasi tersebut, menurut Nafan, terutama dapat disimpulkan lantaran aksi borong saham dilakukan di tengah kondisi pasar yang relatif sedang tertekan oleh sentimen makro dan capital outflow asing.
Sehingga, dengan kondisi pasar yang kurang kondusif itu, disebut Nafan berpotensi menekan kinerja saham AMMN, sehingga bergerak dengan arah pergerakan yang tidak mencerminkan fundamental atau kondisi bisnis perusahaan yang sebenarnya.
Analisis tersebut sejalan dengan laporan analisis mendalam (initiation report) yang dirilis oleh BRI Danareksa Sekuritas yang memberikan rekomendasi Buy dengan target harga Rp6.000 per saham.
Salam analisis tersebut, Analis BRI Danareksa Sekuritas, Andhika Audrey Eko Nugroho, menyebut AMMN memasuki fase pertumbuhan kinerja yang signifikan pada 2026, didorong oleh ramp-up produksi Fase 8 Tambang Batu Hijau serta optimalisasi fasilitas hilirisasi berupa smelter tembaga dan Precious Metal Refinery (PMR).
Riset tersebut memproyeksikan pendapatan AMMN pada 2026 mencapai sekitar USD4 miliar atau tumbuh 117 persen dibandingkan tahun sebelumnya, dengan EBITDA diperkirakan naik 97 persen menjadi sekitar USD2 miliar.
Target harga tersebut disusun menggunakan metode valuasi Sum of the Parts yang turut memperhitungkan potensi pengembangan Proyek Elang di masa mendatang.
Meski demikian, sejak awal tahun, harga saham AMMN sebenarnya melorot 44,28 persen secara year to date (ytd) ke level Rp 3.580 per saham, hingga Senin (6/7/2026). Namun, dalam sebulan terakhir, harga saham AMMN masih mampu tumbuh sebesar delapan persen.
Nafan menambahkan, apresiasi harga saham AMMN disebabkan oleh kuatnya pengaruh kenaikan harga emas dan tembaga dunia seiring masifnya kebutuhan komoditas tembaga sebagai komponen kendaraan listrik dan data center.