"Kami menduga ini didorong oleh pandangan bahwa Federal Reserve akan mengurangi kebijakan dovish pada saat data aktivitas yang lebih lemah menimbulkan pertanyaan tentang seberapa agresif bank sentral lain, terutama di Eropa, dapat melakukan pengetatan kebijakan moneter tahun ini,” sambungnya.
Sebelumnya, militer AS melakukan serangan yang digambarkan sebagai serangan "defensif" di Iran selatan, menenggelamkan dua kapal Korps Garda Revolusi Islam yang mencoba memasang ranjau di Selat Hormuz.
Serangan tersebut memicu pembalasan dari Teheran, yang menembakkan rudal ke pesawat AS. Serangan Amerika kemudian menghantam peluncur rudal di dekat Bandar Abbas, lapor Wall Street Journal, mengutip seorang pejabat AS.
Optimisme baru-baru ini bahwa Washington dan Teheran mungkin mendekati kesepakatan yang langgeng untuk mengakhiri perang mereka yang hampir tiga bulan lamanya mereda.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengisyaratkan bahwa diskusi tentang kesepakatan dengan Iran dapat "membutuhkan beberapa hari," menambahkan bahwa Selat Hormuz pada akhirnya akan dibuka kembali sepenuhnya untuk "satu arah atau arah lain."