“Secara keseluruhan, kami melihat faktor musiman dan berbagai inisiatif pemerintah mendukung pertumbuhan PDB kuartal I-2026 yang kuat, meski kemungkinan besar bersifat frontloaded,” tulis Wisnu.
Dari sisi sektoral, pertumbuhan terutama ditopang sektor akomodasi dan makanan-minuman, konstruksi, serta perdagangan besar. Sementara itu, output manufaktur mulai melambat akibat lemahnya industri berbasis pertambangan.
Meski demikian, CGSI memperingatkan sejumlah risiko yang berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi ke depan, terutama kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi dan keterbatasan fiskal pemerintah.
Wisnu menilai konflik berkepanjangan di Selat Hormuz meningkatkan peluang kenaikan harga Pertamax atau RON 92. Bahkan, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia disebut telah memberi sinyal terkait kemungkinan penyesuaian harga tersebut.
“Pertamax merupakan komponen inflasi (CPI) yang cukup sensitif karena memiliki porsi sekitar 8 persen dari total konsumsi bahan bakar transportasi,” ujar dia.