sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Ekspansi ke Bisnis Daging, TGUK Raih Penjualan Rp200 Miliar pada Kuartal I-2026

Market news editor Rahmat Fiansyah
02/05/2026 19:30 WIB
PT Platinum Wahab Nusantara Tbk (TGUK) mencatat lonjakan pendapatan pada tiga bulan pertama tahun ini, sejalan dengan ekspansi perseroan ke bisnis daging.
PT Platinum Wahab Nusantara Tbk (TGUK) mencatat lonjakan pendapatan pada tiga bulan pertama tahun ini, sejalan dengan ekspansi ke bisnis daging. (Foto: Ist)
PT Platinum Wahab Nusantara Tbk (TGUK) mencatat lonjakan pendapatan pada tiga bulan pertama tahun ini, sejalan dengan ekspansi ke bisnis daging. (Foto: Ist)

IDXChannel - PT Platinum Wahab Nusantara Tbk (TGUK) mencatat lonjakan pendapatan pada tiga bulan pertama tahun ini, sejalan dengan ekspansi perseroan ke bisnis daging.

Dalam laporan keuangan yang dikutip Sabtu (2/5/2026), TGUK membukukan penjualan Rp200,7 miliar sepanjang Januari-Maret 2026, naik tajam dibandingkan periode yang sama tahun 2025 sebesar Rp726 juta.

Perbedaan mendasar dari angka tersebut berasal dari penjualan daging yang mencapai Rp199,6 miliar atau setara dengan 99,44 persen dari total penjualan TGUK. 

Selain itu, perseroan mencatat adanya penjualan dari bisnis makanan olahan sebesar Rp69 juta meski tak terlalu signifikan. Penjualan bisnis makanan dan minuman dengan merek Teguk juga masih tercatat sebesar Rp1,05 miliar.

Sejalan dengan ekspansi tersebut, beban pokok pendapatan TGUK ikut naik tajam menjadi Rp191,3 miliar dari sebelumnya Rp290,6 juta. Dengan demikian, perseroan mencatat laba kotor Rp9,4 miliar, meningkat tajam dari sebelumnya Rp435,9 juta.

Selain itu, TGUK juga mencatat laba operasional sebesar Rp3,3 miliar dari sebelumnya rugi Rp4,1 miliar. Beban usaha tumbuh 33 persen menjadi Rp6,1 miliar, dipicu beban gaji dan tunjangan yang naik dua kali lipat menjadi Rp1,74 miliar. Kenaikan pos ini menandakan mulai kembalinya aktivitas operasional perseroan.

TGUK juga mencatat laba bersih sebesar Rp2,4 miliar pada kuartal I-2026. Perbaikan kinerja bottom line tersebut berasal dari bisnis daging yang mencetak laba usaha Rp8,54 miliar. Sedangkan bisnis makanan dan minuman mencatat rugi operasional Rp37,6 miliar.

Bisnis minuman dan makanan Teguk memang terus tertekan. Sepanjang 2025, perseroan telah menutup hingga 84 persen dari total gerai dengan membukukan kerugian dalam dua tahun terakhir sebesar Rp104,1 miliar.

Meski laba rugi mencatat adanya perbaikan yang signifikan, laporan arus kas (cashflow) menunjukkan penerimaan kas dari pelanggan hanya tercatat sebesar Rp21,5 miliar. Hal ini membuat arus kas dari aktivitas operasi masih negatif Rp1 miliar.

Piutang usaha membengkak dari Rp19,1 miliar menjadi Rp198,4 miliar, menunjukkan penjualan belum terealisasi menjadi kas. Utang usaha juga naik dari Rp27,9 miliar menjadi Rp174,6 miliar. 

Posisi kas dan setara kas turun menjadi Rp193,4 juta. Sejalan dengan peningkatan piutang, aset TGUK naik dari 117 persen menjadi Rp278 miliar.

Hingga 31 Maret 2026, ekuitas TGUK masih positif sebesar Rp76,3 miliar meski saldo laba masih negatif Rp76,7 miliar, yang merupakan akumulasi kerugian yang dialami perusahaan pada tahun-tahun sebelumnya.

(Rahmat Fiansyah)

Halaman : 1 2 3
Advertisement
Advertisement