Pada saat yang sama, National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) Amerika Serikat (AS) memperkirakan probabilitas lebih dari 90 persen terjadinya El Niño yang sangat kuat pada akhir 2026.
CGSI menilai cuaca yang lebih kering pada awalnya justru dapat mendukung aktivitas panen. Namun, tekanan air yang berlangsung lama biasanya baru berdampak terhadap produktivitas tandan buah segar (TBS) setelah jeda sekitar 12-16 bulan.
Karena itu, CGSI memperkirakan weather premium mulai masuk ke harga CPO pada kuartal IV-2026. Dampak yang lebih signifikan terhadap produksi diperkirakan baru terlihat mulai semester II-2027.
Selain risiko terhadap produksi, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dan kabut asap (haze) juga menjadi risiko operasional yang perlu diperhatikan, meski saat ini dampaknya masih bersifat lokal.
Risiko Gangguan Ekspor Mereda
Dari sisi kebijakan, CGSI menilai risiko gangguan ekspor dalam jangka pendek mulai mereda seiring penerapan bertahap Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI). Namun, biaya dan model operasional DSI masih belum diungkapkan secara jelas.