sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

El Niño Mengintai, Simak Prospek Sederet Saham Sawit (CPO)

Market news editor TIM RISET IDX CHANNEL
31/08/2026 06:31 WIB
Stok minyak sawit Indonesia mulai menyusut seiring normalisasi ekspor, sementara risiko cuaca ekstrem berpotensi menjadi katalis baru bagi CPO.
El Niño Mengintai, Simak Prospek Sederet Saham Sawit (CPO). (Foto: Magnific)
El Niño Mengintai, Simak Prospek Sederet Saham Sawit (CPO). (Foto: Magnific)

IDXChannel - Stok minyak sawit Indonesia mulai menyusut seiring normalisasi ekspor, sementara risiko cuaca ekstrem berpotensi menjadi katalis baru bagi harga crude palm oil (CPO) mulai akhir 2026 hingga 2027.

Analis CGS International Sekuritas Indonesia (CGSI) Rut Yesika Simak dan Bob Setiadi menilai penurunan stok sawit saat ini lebih mencerminkan normalisasi pengiriman ekspor, bukan defisit pasokan struktural.

Namun, kondisi cuaca yang semakin kering berpotensi memberikan weather premium pada harga CPO mulai kuartal IV-2026.

Dalam riset yang terbit pada 27 Agustus 2026, CGSI mengutip data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) yang menunjukkan produksi gabungan CPO dan palm kernel oil (PKO) pada Juni 2026 naik 15,8 persen secara bulanan menjadi 5,3 juta ton.

Dengan demikian, total produksi pada semester I-2026 mencapai 30,3 juta ton, tumbuh 8,6 persen secara tahunan dan telah mencapai sekitar 53 persen dari proyeksi CGSI untuk sepanjang 2026.

Di sisi lain, ekspor melonjak 64,1 persen secara bulanan menjadi 3,3 juta ton pada Juni 2026. Konsumsi domestik juga meningkat 5,9 persen menjadi 2,2 juta ton.

Lonjakan ekspor tersebut membuat stok CPO dan PKO turun 6,5 persen secara bulanan menjadi 2,8 juta ton. Rasio stok terhadap penggunaan secara tahunan juga turun menjadi 4,3 kali dari 6,2 kali pada Mei 2026.

Meski stok menyusut, CGSI belum melihat kondisi tersebut sebagai indikasi kekurangan pasokan.

Pasalnya, pertumbuhan produksi sepanjang semester I-2026 masih lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan konsumsi domestik dan ekspor.

Risiko Cuaca Menguat

Perhatian pasar kini beralih pada kondisi cuaca. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan musim kemarau mencapai puncaknya pada Agustus-September 2026.

Pada saat yang sama, National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) Amerika Serikat (AS) memperkirakan probabilitas lebih dari 90 persen terjadinya El Niño yang sangat kuat pada akhir 2026.

CGSI menilai cuaca yang lebih kering pada awalnya justru dapat mendukung aktivitas panen. Namun, tekanan air yang berlangsung lama biasanya baru berdampak terhadap produktivitas tandan buah segar (TBS) setelah jeda sekitar 12-16 bulan.

Karena itu, CGSI memperkirakan weather premium mulai masuk ke harga CPO pada kuartal IV-2026. Dampak yang lebih signifikan terhadap produksi diperkirakan baru terlihat mulai semester II-2027.

Selain risiko terhadap produksi, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dan kabut asap (haze) juga menjadi risiko operasional yang perlu diperhatikan, meski saat ini dampaknya masih bersifat lokal.

Risiko Gangguan Ekspor Mereda

Dari sisi kebijakan, CGSI menilai risiko gangguan ekspor dalam jangka pendek mulai mereda seiring penerapan bertahap Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI). Namun, biaya dan model operasional DSI masih belum diungkapkan secara jelas.

Sementara itu, Bursa Mineral dan Komoditas Strategis ditargetkan mulai beroperasi pada 1 Januari 2027 di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Kendati demikian, detail mengenai mekanisme dan operasional bursa tersebut masih belum jelas.

Saham Pilihan

Dengan mempertimbangkan berbagai faktor tersebut, CGSI mempertahankan rekomendasi Neutral untuk sektor perkebunan.

CGSI memperkirakan produksi pada semester II-2026 hanya mengalami perbaikan musiman yang moderat karena peningkatan risiko karhutla dan kabut asap berpotensi mengganggu panen maupun proses pengangkutan hasil perkebunan.

Di sisi harga, penyerapan biodiesel B50 dan stok yang lebih ketat dinilai dapat menopang harga CPO hingga kuartal IV 2026. Sementara itu, dampak El Niño terhadap hasil produksi diperkirakan baru terasa lebih material pada semester II-2027.

Untuk pilihan utama di sektor perkebunan, CGSI menjagokan PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG).

Ada tiga alasan utama di balik pilihan tersebut. Pertama, valuasinya dinilai paling murah di antara emiten yang dicakup CGSI, dengan sekitar 7 kali price-to-earnings ratio (P/E) berdasarkan estimasi 2026.

Kedua, DSNG dinilai memiliki profil environmental, social, and governance (ESG) terbaik di antara perusahaan sejenis dalam cakupan CGSI. Ketiga, proses deleveraging yang cepat berpotensi menurunkan beban keuangan perseroan.

CGSI melihat potensi kenaikan saham sektor perkebunan apabila ekspor lebih kuat dari perkiraan, penyerapan biodiesel B50 meningkat, dan harga CPO menguat.

Sebaliknya, risiko penurunan berasal dari produksi yang lebih tinggi dari perkiraan, pelemahan harga minyak nabati lainnya, serta kenaikan biaya akibat regulasi. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

Halaman : 1 2 3 4 5
Advertisement
Advertisement