IDXChannel - PT Harum Energy Tbk (HRUM) memutuskan untuk kembali absen membagikan dividen kepada pemegang saham. Langkah ini dilakukan untuk memperkuat arus kas sejalan dengan transformasi yang dilakukan perusahaan tambang tersebut ke sektor nikel.
Keputusan untuk tidak membagi dividen ditetapkan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang digelar Rabu (3/6/2026). Perseroan terakhir kali membagikan dividen pada Desember 2022.
Dalam RUPST itu, pemegang saham menyetujui usulan terkait alokasi penggunaan laba bersih tahun buku 2025 yang mencapai USD37,4 juta. Dari angka itu, sebesar USD100 ribu ditetapkan untuk dana cadangan yang nantinya membuat jumlahnya mencapai USD4,59 juta atau 15,9 persen dari total modal ditempatkan dan disetor perseroan.
Sementara sisa laba tahun lalu ditetapkan untuk menambah saldo laba. Keputusan tersebut mempertimbangkan proyeksi kebutuhan investasi dan belanja modal, kewajiban jangka pendek, dan posisi kas perseroan.
Sebagai informasi, Harum Energy tengah bertranformasi dari perusahaan batu bara menjadi perusahaan nikel. Hal tersebut tercermin dari komposisi pendapatan perseroan pada awal 2026.
Di kuartal I-2026, segmen batu bara memberikan sumbangan terhadap pendapatan perseroan sebesar 3 persen, turun dari 42 persen pada kuartal I-2025. Hal ini juga imbas dari penurunan volume penjualan batu bara hingga 94 persen serta harga jual rata-rata (ASP) yang terkoreksi 10 persen.
Sementara itu, kontribusi sektor nikel melonjak menjadi 97 persen dengan kontribusi pendapatan USD345,9 juta, tumbuh 16 persen. Volume penjualan nikel tumbuh 40 persen, sedangkan ASP naik 29 persen secara tahunan.
Harum diketahui terlibat dalam sejumlah proyek nikel di Weda Bay lewat pertambangan nikel laterit di Halmahera Timur dan pengolahan dan pemurnian bijih nikel di Weda Bay Industrial Park, Halmahera Tengah.
Setidaknya ada tiga smelter Rotary Klin Electric Furnace (RKEF) yang dioperasikan perseroan bersama mitranya melalui PT Infei Metal Industry, PT Westrong Metal Industri, dan PT Sunny Metal Industry. Selain itu, melalui PT Blue Sparking Energy, perseroan juga telah memulai komersialisasi pabrik High Pressure Acid Leaching (HPAL) sejak Maret 2026.
(Rahmat Fiansyah)