Menurut Hendra, tekanan terhadap IHSG justru datang dari melemahnya kurs rupiah terhadap dolar AS. Selain itu, harga minyak mentah dunia juga kembali ke area USD100 per barel akibat tensi geopolitik global yang meningkat.
Kombinasi kedua faktor ini memunculkan kekhawatiran terhadap pelebaran defisit transaksi berjalan dan tekanan fiskal Indonesia ke depan. Ketika harga minyak naik tinggi di tengah pelemahan rupiah, maka beban impor energi dan subsidi berpotensi meningkat signifikan.
Dia menitberatkan bahwa kekhawatiran tersebut membuat investor asing cenderung lebih berhati-hati terhadap emerging markets termasuk Indonesia. Dalam situasi dolar AS yang masih kuat dan yield obligasi AS tetap tinggi, aliran dana global lebih banyak bergerak ke aset safe haven.
"Akibatnya, tekanan jual asing di pasar saham domestik masih cukup besar. Jadi pelemahan IHSG saat ini sejatinya merupakan kombinasi antara sentimen MSCI, tekanan eksternal global, pelemahan rupiah, lonjakan harga minyak, dan aksi profit taking menjelang libur panjang," tuturnya.
Hendra mengakui MSCI tetap menjadi pemicu utama di level mikro pasar saham, tetapi kekhawatiran makro ekonomi saat ini justru menjadi faktor yang memperbesar tekanan psikologis investor.