Para pejabat tinggi AS dan Iran juga telah menyelesaikan putaran pertama perundingan di Swiss. Pembicaraan tersebut merupakan tindak lanjut dari nota kesepahaman yang dicapai pekan lalu untuk memperpanjang gencatan senjata yang rapuh sejak April setidaknya selama 60 hari ke depan.
Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan perundingan yang dimediasi sejumlah negara berjalan positif. Bahkan, mediator dari Qatar dan Pakistan menyebut kedua pihak telah menyepakati peta jalan menuju kesepakatan yang lebih luas, sementara pembahasan teknis dijadwalkan berlanjut sepanjang pekan ini.
Selain perkembangan geopolitik, pelaku pasar juga menaruh perhatian pada sejumlah data ekonomi penting AS yang akan dirilis pekan ini. Fokus utama tertuju pada revisi Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal I-2026 dan data Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (Core PCE), yang menjadi indikator inflasi favorit Federal Reserve (The Fed).
Data tersebut diperkirakan akan memberikan petunjuk baru mengenai arah kebijakan suku bunga bank sentral AS di tengah dinamika ekonomi global yang masih penuh ketidakpastian.
Dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) mengingatkan adanya sejumlah risiko inflasi yang perlu diwaspadai. Salah satunya berasal dari penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, khususnya Pertamax dan Pertamax Turbo, yang diperkirakan akan memberikan kontribusi terhadap kenaikan inflasi nasional.