BI menilai risiko inflasi juga datang dari faktor eksternal melalui transmisi kenaikan harga minyak dan komoditas global atau imported inflation. Dampak rambatan tersebut terutama dirasakan pada kelompok administered prices yang terkait dengan kebijakan harga yang diatur pemerintah.
Selain itu, bank sentral turut mencermati potensi gangguan cuaca akibat fenomena El Nino yang diperkirakan berlangsung pada akhir Juni hingga Oktober atau November 2026. Kondisi tersebut berpotensi memicu tekanan pada kelompok harga pangan bergejolak (volatile food).
Meski demikian, Deputi Gubernur Senior BI Aida S Budiman menilai risiko dari sisi hulu pertanian masih relatif terkendali karena kapasitas produksi pupuk domestik dinilai memadai. BI juga memastikan inflasi masih berada dalam jalur yang sesuai dengan sasaran pemerintah dan bank sentral, yakni 2,5±1 persen atau maksimal 3,5 persen.
Berdasarkan perkembangan tersebut, Ibrahim memproyeksikan nilai tukar rupiah pada perdagangan berikutnya akan bergerak fluktuatif dalam rentang Rp17.850 hingga Rp17.890 per USD.
(DESI ANGRIANI)