Sepanjang 2025, BALI membukukan pendapatan sebesar Rp1,239 triliun, atau tumbuh 18,45 persen dibandingkan tahun sebelumnya. EBITDA tercatat mencapai Rp834 miliar dengan EBITDA margin berada di level 67 persen.
Laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp182,28 miliar pada 2025. Laba bersih BALI tersebut naik 26,35 persen dari Rp144,27 miliar pada 2024.
"Pertumbuhan ini ditopang oleh kinerja berbagai lini bisnis yang mencakup penyewaan menara telekomunikasi, transmisi dan bandwidth, operation and maintenance (O&M), layanan fiber-to-the-x (FTTX), data center hingga layanan Very Small Aperture Terminal Remote Terminal Ground Segment (VSAT RTGS)," ujar Lily.
Sementara untuk segmen seluler, Lily menjelaskan bahwa BALI saat ini merupakan penyedia menara terbesar di Bali dan salah satu operator micro cell pole (MCP) terbesar di Jakarta.
Seluruh menara yang dimiliki perseroan telah terhubung dengan jaringan fiber optik dan/atau microwave untuk mendukung kebutuhan jaringan 4G dan 5G.
Sedangkan pada segmen non-seluler, Perseroan menyediakan layanan internet dan konektivitas berbasis fiber optik, data center, serta solusi telekomunikasi bagi pelanggan korporasi dan instansi pemerintah.