Minyak sawit biasanya mengikuti pergerakan harga minyak nabati pesaing karena bersaing dalam memperebutkan pangsa pasar minyak nabati global.
Ringgit, mata uang perdagangan minyak sawit, menguat 0,94 persen terhadap dolar AS sehingga membuat komoditas ini lebih mahal bagi pembeli yang memegang mata uang asing.
Data Komisi Eropa menunjukkan impor kedelai Uni Eropa untuk musim 2025/2026 yang dimulai pada Juli telah mencapai 9,74 juta ton hingga 5 April, turun 9 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, impor minyak sawit turun 4 persen menjadi 2,19 juta ton.
Menteri Perkebunan dan Komoditas Malaysia mengatakan pemerintah berencana memperluas program biodiesel B20 berbasis minyak sawit secara nasional secara bertahap, dengan mempertimbangkan sensitivitas harga minyak sawit terhadap harga minyak bumi. (Aldo Fernando)