Dolar AS yang lebih lemah membuat komoditas yang diperdagangkan dalam mata uang tersebut menjadi lebih murah bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain.
Harga tembaga juga menguat meskipun saham-saham sektor semikonduktor belakangan melemah.
Dalam beberapa tahun terakhir, logam merah tersebut mendapat dukungan dari prospek peningkatan permintaan seiring pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan (AI), modernisasi jaringan listrik, dan pertumbuhan kendaraan listrik.
Data indeks manajer pembelian (PMI) yang dirilis pekan ini menunjukkan aktivitas manufaktur di China, konsumen tembaga terbesar dunia, tumbuh selama tujuh bulan berturut-turut hingga Juni.
Di sisi lain, premi tembaga Yangshan yang menjadi indikator minat beli di China bertahan di level tertinggi sejak 2025.