Selain itu, lonjakan harga energi turut menambah tekanan ke atas karena meningkatkan biaya produksi smelter di tengah pasar listrik yang masih bergejolak.
Sebelumnya, konflik di kawasan tersebut telah memaksa sejumlah smelter mengurangi produksi.
Penutupan jalur strategis Selat Hormuz juga memperburuk gangguan pasokan. Padahal, kawasan ini menyumbang sekitar 9 persen produksi aluminium global sebelum konflik memanas.
Di sisi lain, harga tembaga ikut menguat seiring penurunan stok dan membaiknya permintaan dari China. Indikator premi Yangshan, yang mencerminkan minat impor tembaga China, melonjak ke USD73 per ton, level tertinggi sejak Juni 2025.
Pergerakan logam dasar lainnya cenderung bervariasi.
Di LME, nikel naik 1,71 persen dan seng menguat tipis, sementara timah dan timbal melemah. Sementara, di SHFE, nikel mencatat kenaikan paling tinggi, sedangkan logam lain bervariasi. (Aldo Fernando)