Sementara itu, harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade meningkat 0,88 persen.
Harga CPO turut mengikuti pergerakan harga minyak nabati pesaingnya karena komoditas tersebut bersaing untuk mendapatkan pangsa di pasar minyak nabati global.
Di sisi lain, harga minyak mentah melanjutkan penguatan seiring meningkatnya risiko konflik berkepanjangan di Timur Tengah. Iran mengancam akan membalas setiap serangan baru Amerika Serikat (AS) terhadap aset-asetnya, sehingga meningkatkan kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan.
Kenaikan harga minyak mentah berjangka membuat CPO menjadi bahan baku biodiesel yang lebih menarik.
Dari sisi mata uang, ringgit yang menjadi mata uang perdagangan CPO melemah 0,19 persen terhadap dolar AS.