IDXChannel – Harga emas turun hampir 2 persen pada Kamis (10/9/2026) setelah data inflasi Amerika Serikat (AS) yang lebih kuat dari perkiraan dan kenaikan harga minyak mendorong ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) pekan depan.
Harga emas spot turun 1,93 persen menjadi USD4.317,02 per troy ons.
Analis pasar keuangan senior Capital.com Kyle Rodda mengatakan data Producer Price Index (PPI) menunjukkan adanya peningkatan tekanan inflasi yang mendasari perekonomian AS, salah satunya dipicu kenaikan biaya energi.
"Data PPI menunjukkan bahwa telah terjadi sedikit peningkatan inflasi yang mendasari dalam perekonomian AS, dan sebagian disebabkan oleh kenaikan biaya energi," kata Rodda, seperti dikutip Reuters.
Data PPI untuk permintaan akhir naik 0,4 persen pada Agustus 2026 setelah meningkat 0,1 persen pada Juli berdasarkan revisi naik, menurut data Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS) pada Kamis.
Kenaikan tersebut memperkuat ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter The Fed. Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga AS pada pekan depan mencapai 70 persen, naik dari 62 persen sebelum data PPI dirilis.
Meski demikian, mayoritas ekonom yang disurvei Reuters masih memperkirakan The Fed mempertahankan suku bunga pada pertemuan 15-16 September 2026 dan sepanjang sisa tahun ini.
Tekanan terhadap emas juga datang dari penguatan dolar AS. Kondisi tersebut membuat emas yang dihargai dalam dolar menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya. Kenaikan imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun turut menekan harga emas.
Menurut Rodda, pasar obligasi perlu mencerminkan inflasi yang lebih persisten dan lebih tinggi akibat kenaikan harga minyak. Kondisi tersebut kemudian memberikan tekanan terhadap harga emas.
Kenaikan imbal hasil obligasi biasanya menjadi sentimen negatif bagi emas karena meningkatkan biaya peluang memegang aset yang tidak memberikan imbal hasil.
Di pasar energi, harga minyak melonjak sekitar 4 persen pada Kamis, dengan harga Brent menembus USD105 per barel.
Lonjakan tersebut terjadi setelah serangan terhadap kapal menjadi yang terbesar sejak perang AS-Iran dimulai, sehingga meningkatkan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan minyak.
Sementara itu, Bank Sentral Eropa (ECB) pada Kamis menaikkan suku bunga untuk kedua kalinya sepanjang tahun ini.
Langkah tersebut ditempuh untuk meredam kenaikan inflasi yang dipicu lonjakan harga energi akibat perang. (Aldo Fernando)