“Imbal hasil dan dolar yang lebih kuat menekan emas, ditambah banyaknya berita dan sinyal beragam terkait situasi Iran yang mendorong harga energi naik dan pada akhirnya menekan logam,” kata Senior Market Strategist di RJO Futures Bob Haberkorn, dikutip Reuters.
Presiden AS Donald Trump pada Selasa sempat menyatakan tidak ingin memperpanjang gencatan senjata dengan Iran dan menegaskan militer AS siap bertindak jika negosiasi gagal, yang sempat mendorong harga minyak mentah melonjak lebih dari 3 persen.
Namun, Reuters melaporkan bahwa beberapa jam kemudian Trump justru mengatakan akan memperpanjang gencatan senjata tersebut tanpa batas waktu, guna memberi ruang bagi kedua negara melanjutkan pembicaraan damai untuk mengakhiri perang.
Lonjakan harga minyak sejak AS dan Israel melancarkan perang terhadap Iran pada 28 Februari memicu kekhawatiran lonjakan inflasi, sehingga meredupkan prospek penurunan suku bunga.
Meski emas dikenal sebagai lindung nilai terhadap inflasi, aset yang tidak memberikan imbal hasil ini cenderung tertekan saat suku bunga tinggi.