“Investor mencermati perundingan AS-Iran, dan sentimen mereka sangat dipengaruhi oleh hasil pembicaraan tersebut,” ujar analis minyak PVM Tamas Varga, dikutip FXEmpire.
Masalahnya, belum ada kesepakatan soal agenda yang benar-benar dibahas.
Iran ingin fokus pada isu nuklir, sementara AS mendorong agar pembahasan juga mencakup rudal balistik serta dukungan Iran terhadap kelompok bersenjata di kawasan.
Isu ini krusial karena setiap eskalasi antara kedua negara berpotensi mengganggu arus minyak melalui Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia.
Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, Irak, dan Iran mengekspor sebagian besar minyak mentah mereka melalui titik sempit ini.
Jika perundingan berjalan lancar dan ketegangan mereda, harga minyak berpeluang turun lebih jauh. Capital Economics menilai kekhawatiran geopolitik pada akhirnya akan kalah oleh fundamental yang lemah.