Lembaga ini memperkirakan harga minyak bergerak turun mendekati USD50 per barel pada akhir 2026, seiring peningkatan produksi dari Kazakhstan.
Penurunan mingguan harga minyak tidak semata dipicu faktor geopolitik. Harga juga tertekan oleh aksi jual luas di pasar global serta ekspektasi berlanjutnya kondisi pasokan berlebih.
Arab Saudi baru-baru ini memangkas harga jual resmi minyak Arab Light ke Asia ke level terendah dalam lima tahun, menandai penurunan untuk bulan keempat berturut-turut.
“Latar belakang fundamentalnya sebenarnya tidak terlalu menggembirakan, karena mengindikasikan pasar yang kelebihan pasokan,” kata Varga.
FXEmpire menulis, secara teknikal, jika minyak WTI mampu bertahan di atas level USD64,50, harga berpeluang mengarah ke area resistance USD65,50-USD66,00.