Menurut Goldman Sachs, lonjakan harga energi saat ini dipicu kerusakan infrastruktur energi di Timur Tengah serta gangguan pengiriman minyak melalui Selat Hormuz, salah satu jalur perdagangan energi terpenting di dunia.
Sementara itu, bank investasi Barclays juga menaikkan proyeksi harga Brent untuk 2026 menjadi USD85 per barel. Revisi tersebut didorong oleh gangguan pasokan minyak yang berkaitan dengan konflik Iran.
Barclays mencatat aliran minyak melalui Selat Hormuz saat ini turun drastis hingga hampir terhenti.
Di saat yang sama, penghentian produksi minyak di sejumlah negara Teluk dilaporkan telah melonjak hingga lebih dari 10 juta barel per hari.
Meski demikian, Barclays menyebutkan proyeksi tersebut didasarkan pada asumsi bahwa situasi di Selat Hormuz dapat kembali normal dalam dua hingga tiga pekan ke depan.