Analis Commerzbank mengatakan optimisme investor terhadap pembukaan penuh Selat Hormuz menjadi salah satu faktor yang menekan harga minyak.
Prospek tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran dinilai dapat memperlancar kembali arus ekspor minyak dari kawasan Timur Tengah.
UBS memangkas proyeksi harga Brent setelah aktivitas pengiriman melalui Selat Hormuz pulih lebih cepat dari perkiraan. Meski demikian, bank tersebut masih memperkirakan Brent rata-rata berada di kisaran USD80 per barel pada kuartal III-2026 dan IV-2026.
Di sisi lain, HSBC mengambil pandangan yang lebih positif.
Menurut bank tersebut, tambahan pasokan minyak dari Timur Tengah diperkirakan dapat diserap pasar melalui peningkatan persediaan secara bertahap setelah pelepasan cadangan strategis darurat berakhir pada akhir bulan ini. HSBC juga memperkirakan Brent kembali menuju kisaran USD80 per barel setelah kelebihan pasokan saat ini mereda.
Perbedaan pandangan kedua bank terutama terletak pada apakah kelebihan pasokan saat ini akan menjadi kondisi permanen atau hanya bersifat sementara.