Namun, keduanya sama-sama menilai permintaan dari China akan menjadi faktor penentu arah harga minyak.
Hingga kini, konsumsi di negara tersebut belum menunjukkan pemulihan sesuai harapan sehingga pasar masih memiliki pasokan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan.
Dari sisi teknikal, analis FXEmpire James Hyerczyk mengatakan tren harga minyak masih cenderung menurun.
Kontrak WTI pengiriman Agustus sedang menguji area gap di kisaran USD66,96 hingga USD66,29 per barel yang berpotensi memicu rebound teknikal.
Namun, jika area tersebut gagal bertahan, harga berisiko melanjutkan penurunan menuju level terendah Desember di USD55,40 per barel.