Meski masih naik sekitar 1 persen sepanjang pekan, kedua acuan tersebut mencatat penurunan bulanan untuk bulan keempat berturut-turut, tren terpanjang sejak 2023, tertekan ekspektasi pasokan global yang lebih tinggi.
Analis Rystad, Janiv Shah menilai, margin laba pengolahan bahan bakar yang masih kuat mendukung permintaan minyak di beberapa wilayah, namun prospek surplus pasokan membuat harga tetap tertekan.
Produksi minyak AS mencapai rekor tertinggi pada September, menurut data Badan Informasi Energi AS (EIA), memperdalam kekhawatiran bahwa pasar menuju surplus. Output minyak mentah AS naik 44.000 barel per hari menjadi rekor 13,84 juta bph pada September.
Survei Reuters terhadap 35 ekonom dan analis menunjukkan Brent diperkirakan rata-rata di USD62,23 per barel pada 2026, turun dari proyeksi Oktober sebesar USD63,15. Sepanjang 2025, harga acuan ini telah mencatat rerata USD68,80 per barel berdasarkan data LSEG.
Tanda-tanda bahwa kesepakatan damai Rusia-Ukraina mungkin segera tercapai sempat menekan harga minyak tajam di awal pekan, namun harga kembali pulih dalam tiga sesi terakhir seiring pembicaraan yang kembali berlarut-larut.