sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Harga Minyak Dunia Menguat Sepekan, tapi Tertekan 4 Bulan Beruntun

Market news editor TIM RISET IDX CHANNEL
30/11/2025 11:30 WIB
Harga minyak dunia turun pada Jumat (28/11/2025), seiring investor menimbang kembali premi risiko geopolitik di pasar minyak.
Harga Minyak Dunia Menguat Sepekan, tapi Tertekan 4 Bulan Beruntun. (Foto: Freepik)
Harga Minyak Dunia Menguat Sepekan, tapi Tertekan 4 Bulan Beruntun. (Foto: Freepik)

IDXChannel – Harga minyak dunia turun pada Jumat (28/11/2025), seiring investor menimbang kembali premi risiko geopolitik di pasar minyak di tengah berlarutnya pembicaraan damai Rusia-Ukraina.

Kondisi ini terjadi ketika pelaku pasar juga menunggu pertemuan OPEC+ pada Minggu untuk melihat arah kebijakan produksi.

Kontrak berjangka (futures) West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat (AS) kembali diperdagangkan setelah sempat dibekukan akibat gangguan sistem di CME Group, yang disebut dipicu masalah pendinginan di pusat data CyrusOne. Sementara itu, Brent diperdagangkan di Intercontinental Exchange (ICE).

Kontrak Brent pengiriman Januari, yang berakhir pada Jumat, ditutup turun 0,22 persen ke USD63,20 per barel. Kontrak Februari yang lebih aktif berakhir di USD62,38, turun 0,80 persen dibanding penutupan Kamis.

WTI ditutup di USD58,55 per barel, melemah 0,17 persen dari penutupan Rabu. Tidak ada penetapan harga pada Kamis karena libur Thanksgiving di AS.

Meski masih naik sekitar 1 persen sepanjang pekan, kedua acuan tersebut mencatat penurunan bulanan untuk bulan keempat berturut-turut, tren terpanjang sejak 2023, tertekan ekspektasi pasokan global yang lebih tinggi.

Analis Rystad, Janiv Shah menilai, margin laba pengolahan bahan bakar yang masih kuat mendukung permintaan minyak di beberapa wilayah, namun prospek surplus pasokan membuat harga tetap tertekan.

Produksi minyak AS mencapai rekor tertinggi pada September, menurut data Badan Informasi Energi AS (EIA), memperdalam kekhawatiran bahwa pasar menuju surplus. Output minyak mentah AS naik 44.000 barel per hari menjadi rekor 13,84 juta bph pada September.

Survei Reuters terhadap 35 ekonom dan analis menunjukkan Brent diperkirakan rata-rata di USD62,23 per barel pada 2026, turun dari proyeksi Oktober sebesar USD63,15. Sepanjang 2025, harga acuan ini telah mencatat rerata USD68,80 per barel berdasarkan data LSEG.

Tanda-tanda bahwa kesepakatan damai Rusia-Ukraina mungkin segera tercapai sempat menekan harga minyak tajam di awal pekan, namun harga kembali pulih dalam tiga sesi terakhir seiring pembicaraan yang kembali berlarut-larut.

“Futures sebelumnya mengantisipasi adanya kesepakatan damai tertentu yang menahan harga,” ujar Dennis Kissler, Senior Vice President bidang perdagangan di BOK Financial, dalam catatan pada Jumat. “Namun saat ini masih sangat sedikit informasi, dan jika kesepakatan batal, sanksi terhadap ekspor minyak Rusia kemungkinan justru makin ketat.”

Pada Minggu, OPEC+ diperkirakan mempertahankan level produksi dalam pertemuan mereka dan menyepakati mekanisme untuk menilai kapasitas produksi maksimum masing-masing anggota, menurut dua delegasi dan satu sumber yang mengetahui pembahasan tersebut.

Arab Saudi, eksportir minyak terbesar dunia, diperkirakan menurunkan harga jual minyak untuk pembeli Asia pada Januari untuk bulan kedua, ke level terendah dalam lima tahun. Tekanan pasokan yang melimpah dan prospek surplus menjadi faktor utama, menurut sumber Reuters pada Jumat. (Aldo Fernando)

Halaman : 1 2 3
Advertisement
Advertisement