Di sisi atas, resistance Brent berada di sekitar USD100 per barel. Sebaliknya, kemampuan harga mempertahankan posisi di atas USD85 akan menjadi indikator penting bagi pasar untuk menilai apakah koreksi yang terjadi sepanjang pekan lalu mulai menemukan titik stabilisasi.
Lewis memperkirakan pasar Brent juga masih berada dalam kondisi menunggu. Semakin lama konflik di Timur Tengah berlangsung, semakin besar pula kekhawatiran pasar terhadap keamanan pasokan energi menuju Eropa.
Risiko tersebut tidak hanya dapat memengaruhi harga minyak, tetapi juga berpotensi meningkatkan volatilitas pasar energi lainnya, termasuk gas alam.
Namun, faktor moneter menjadi risiko lain bagi prospek permintaan minyak. Potensi pengetatan kebijakan suku bunga oleh bank-bank sentral global dapat memperlambat aktivitas ekonomi dan pada akhirnya menekan konsumsi energi.
Dengan demikian, arah harga minyak dunia dalam beberapa waktu mendatang diperkirakan masih ditentukan oleh tarik-menarik antara pemulihan pasokan dari Selat Hormuz dan risiko geopolitik yang belum sepenuhnya mereda.