IDXChannel - Harga minyak dunia menutup perdagangan pekan lalu dengan pelemahan tajam.
Namun, setelah terkoreksi lebih dari 5 persen dalam sepekan, pasar kini memasuki fase wait and see sambil menanti perkembangan konflik di Timur Tengah, khususnya terkait potensi pemulihan jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Pada perdagangan Jumat (28/8/2026) pekan lalu, kontrak minyak mentah Brent ditutup turun 0,43 persen menjadi USD89,31 per barel.
Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melemah 0,16 persen ke USD83,40 per barel.
Secara mingguan, harga Brent terkoreksi lebih dari 5 persen, sedangkan WTI turun lebih dari 4 persen.
Tekanan terhadap harga minyak muncul setelah pasar mencermati sejumlah faktor sekaligus, mulai dari arah kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed), perkembangan konflik di Timur Tengah, hingga meningkatnya volume minyak yang kembali mengalir melalui kawasan Selat Hormuz.
Analis Senior Price Futures Group Phil Flynn mengatakan fundamental pasar produk minyak global sebenarnya masih relatif kuat, terutama karena serangan lanjutan Ukraina terhadap fasilitas kilang minyak Rusia.
Namun, sentimen pasar berubah akibat munculnya spekulasi mengenai kemungkinan kesepakatan yang dapat membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.
“Pasar produk minyak global sebenarnya terlihat kuat karena serangan lanjutan Ukraina terhadap kilang-kilang minyak Rusia. Namun, banyak spekulasi dan rumor bahwa kita mungkin melihat kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz pada akhir pekan ini,” kata Flynn, dikutip dari Reuters.
Pasar memang tengah memantau pemulihan arus minyak melalui Selat Hormuz yang masih berlangsung secara bertahap dan bergejolak. Sebelum konflik pecah, sekitar 20 persen pasokan minyak global melewati jalur strategis tersebut.
Perang antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran sendiri memasuki bulan keenam pada Jumat.
Analis Rystad Energy Janiv Shah mengatakan pasar terkejut dengan tambahan volume minyak yang mulai mengalir melalui koridor pelayaran Iran-Oman, termasuk perkembangan terkait upaya pembersihan ranjau di kawasan tersebut.
Menurutnya, penurunan harga minyak sepanjang pekan lalu terutama dipengaruhi oleh meningkatnya volume minyak yang berhasil keluar dari Selat Hormuz serta kecepatan pemulihan arus perdagangan.
“Ketersediaan volume tersebut memungkinkan kilang-kilang di Asia untuk kembali menarik dan mengonsumsi pasokan minyak,” ujarnya.
Meski demikian, prospek harga minyak dalam waktu dekat masih sangat bergantung pada perkembangan geopolitik.
Analis FXEmpire Christopher Lewis menilai perdagangan minyak memasuki fase penuh ketidakpastian karena setiap perkembangan baru dari Timur Tengah berpotensi mengubah arah pasar secara cepat.
Untuk WTI, pasar saat ini bergerak fluktuatif di sekitar rata-rata pergerakan 50 hari atau 50-day EMA. Investor masih menunggu kejelasan mengenai kemungkinan penyelesaian konflik antara AS dan Iran.
Selama belum ada kepastian, harga minyak berpotensi bergerak dalam rentang terbatas dengan volatilitas yang tetap tinggi akibat risiko munculnya berita geopolitik secara mendadak.
Sementara itu, Brent masih bertahan di atas area USD85 per barel dan bergerak di sekitar 50-day EMA yang berada di kisaran USD88 per barel.
Level tersebut menjadi salah satu area penting yang akan menentukan arah pergerakan harga selanjutnya.
Di sisi atas, resistance Brent berada di sekitar USD100 per barel. Sebaliknya, kemampuan harga mempertahankan posisi di atas USD85 akan menjadi indikator penting bagi pasar untuk menilai apakah koreksi yang terjadi sepanjang pekan lalu mulai menemukan titik stabilisasi.
Lewis memperkirakan pasar Brent juga masih berada dalam kondisi menunggu. Semakin lama konflik di Timur Tengah berlangsung, semakin besar pula kekhawatiran pasar terhadap keamanan pasokan energi menuju Eropa.
Risiko tersebut tidak hanya dapat memengaruhi harga minyak, tetapi juga berpotensi meningkatkan volatilitas pasar energi lainnya, termasuk gas alam.
Namun, faktor moneter menjadi risiko lain bagi prospek permintaan minyak. Potensi pengetatan kebijakan suku bunga oleh bank-bank sentral global dapat memperlambat aktivitas ekonomi dan pada akhirnya menekan konsumsi energi.
Dengan demikian, arah harga minyak dunia dalam beberapa waktu mendatang diperkirakan masih ditentukan oleh tarik-menarik antara pemulihan pasokan dari Selat Hormuz dan risiko geopolitik yang belum sepenuhnya mereda.
Selama Brent mampu bertahan di atas USD85 per barel, peluang stabilisasi harga masih terbuka.
Namun, perkembangan konflik di Timur Tengah dan kebijakan moneter global akan tetap menjadi dua faktor utama yang menentukan apakah harga minyak kembali menguat atau melanjutkan koreksinya. (Aldo Fernando)