Meski demikian, kekhawatiran terhadap prospek ekonomi global masih membayangi. Federal Reserve (The Fed) yang terbelah pada Rabu memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin sesuai perkiraan.
Namun, komentar Ketua The Fed Jerome Powell seusai pertemuan bank sentral bernada hati-hati mengenai arah kebijakan ke depan.
Pekan lalu, Brent dan WTI mencatat kenaikan mingguan terbesar sejak Juni setelah Trump memberlakukan sanksi terkait Ukraina terhadap Rusia untuk pertama kalinya di masa jabatan keduanya, menargetkan perusahaan minyak besar seperti Lukoil dan Rosneft.
Namun, keraguan apakah sanksi tersebut dapat mengimbangi potensi kelebihan pasokan serta pembicaraan mengenai peningkatan produksi OPEC+ kembali menekan harga. Kedua acuan harga itu turun 1,9 persen, atau lebih dari USD1, pada sesi sebelumnya.
OPEC+, kelompok produsen minyak terbesar dunia, dikabarkan condong ke arah penambahan produksi moderat pada Desember, menurut empat sumber Reuters yang mengetahui pembahasan tersebut. Dua di antaranya menyebut tambahan produksi sebesar 137 ribu barel per hari. (Aldo Fernando)