Meningkatnya ketegangan memicu kekhawatiran konflik akan semakin membatasi pergerakan kapal tanker melalui Selat Hormuz dan memperparah gangguan pasokan minyak yang telah terjadi.
Risiko ini semakin meningkat setelah dua kapal supertanker yang mengangkut minyak mentah Arab Saudi terkena proyektil yang belum teridentifikasi saat melintas di Selat Hormuz pada Senin (31/8/2026). Masing-masing kapal diketahui telah memuat sekitar 2 juta barel minyak mentah dari terminal Juaymah, Arab Saudi.
Analis ING menilai, aliran minyak masih dapat berlangsung melalui Selat Hormuz meski terjadi kebuntuan antara AS dan Iran. Namun, peningkatan ketegangan berpotensi meningkatkan risiko terhadap pelayaran di jalur strategis tersebut.
"Kami telah melihat aliran minyak melalui Selat Hormuz tetap berlangsung meski terjadi kebuntuan antara AS dan Iran, tetapi meningkatnya ketegangan jelas membuat pelayaran semakin berisiko," tulis analis ING dalam catatannya.
Menteri Energi AS Chris Wright menyebut sekitar 17 juta barel minyak mengalir melalui Selat Hormuz pada Senin (31/8/2026). Namun, analis menilai data pelacakan kapal menunjukkan volume yang lebih rendah sehingga rata-rata aliran dalam jangka panjang dinilai lebih dapat diandalkan untuk mengukur kondisi pasokan.