IDXChannel - Harga minyak melonjak lebih dari 2 persen pada perdagangan Kamis (20/8/2026) dan ditutup di level tertinggi dalam hampir sebulan.
Penguatan terjadi setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengancam akan mengambil tindakan terhadap negara-negara yang mendukung Iran, dalam upaya terbaru untuk mengakhiri perang yang telah mengganggu pasokan jutaan barel minyak dari Timur Tengah.
Kontrak berjangka (futures) minyak Brent ditutup naik 2,4 persen menjadi USD93,78 per barel, level tertinggi sejak 24 Juli.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman September meningkat 2,3 persen menjadi USD87,83 per barel, juga merupakan level tertinggi sejak 24 Juli.
Pada Rabu malam, melansir dari Reuters, Trump mengancam akan memberlakukan perang ekonomi dan isolasi dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap Iran.
Dia memperingatkan konsekuensi bagi negara mana pun yang memberikan bantuan dalam bentuk apa pun kepada Iran.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan dirinya akan menggelar konferensi pers pada Senin untuk menjelaskan langkah-langkah yang akan diambil pemerintah AS.
Perang Iran yang dimulai pada 28 Februari ketika AS dan Israel melancarkan serangan militer terhadap Iran telah menewaskan ribuan orang.
Sejak saat itu, blokade Iran di Selat Hormuz serta serangan terhadap fasilitas energi di berbagai wilayah Timur Tengah mengganggu aliran minyak dan gas ke sejumlah negara di dunia.
"Untuk saat ini, ancaman baru tersebut tampaknya tidak akan membuat Iran menyerahkan sumber daya tawar utamanya, yakni kendali atas Selat Hormuz, tanpa adanya konsesi besar dari AS," tulis perusahaan penasihat perdagangan minyak Ritterbusch and Associates dalam sebuah catatan.
"Jadi, situasi terus berlanjut tanpa ada penyelesaian yang terlihat, yang dapat mendorong harga minyak turun signifikan hingga mendekati level sebelum perang," imbuh analis Ritterbusch.
Lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz pada Rabu tidak berubah dibandingkan hari sebelumnya dan masih jauh di bawah level sebelum perang, berdasarkan data pelayaran terbaru.
Sebelum perang Iran, jalur tersebut menjadi rute bagi pengiriman minyak yang setara dengan sekitar seperlima konsumsi minyak global.
Pada pekan ini, Uni Emirat Arab (UEA) menangguhkan seluruh transaksi keuangan dan ekonomi dengan Iran hingga pemberitahuan lebih lanjut. Langkah tersebut menunjukkan semakin tegangnya hubungan antara salah satu produsen minyak utama di kawasan Teluk dan Iran.
Perang juga berdampak terhadap pasokan bahan bakar olahan serta menguras persediaan, karena ketersediaan minyak mentah untuk kilang semakin terbatas.
Persediaan bahan bakar distilat AS, termasuk solar dan minyak pemanas, turun untuk pekan ketiga berturut-turut pada pekan lalu, menurut data Energy Information Administration (EIA) yang dirilis Rabu.
Namun, persediaan minyak mentah justru secara tak terduga meningkat sebesar 4,4 juta barel.
Ancaman Trump terhadap negara-negara yang membantu Iran juga berpotensi menjadi isu sensitif dalam hubungan AS-China.
Analis energi di StoneX, Alex Hodes, mengatakan hal tersebut perlu diperhatikan mengingat China merupakan importir terbesar minyak mentah Iran. (Aldo Fernando)